LightBlog

Followers

Blog Archive

Find Us On Facebook

Categories

Translate

Breaking

Recent In Internet

Recent Post

Video Of Day

Facebook

LightBlog

Recent

Adbox

Technology

Popular Posts

Kita dan Mie Ayam

“Mie ayam porsi sehat.” Dira tersenyum. Menunjukkan deretan rapi giginya sebelum melahap semangkuk mie ayam favorit kami.

“Tapi porsinya kebanyakan kalo buat aku.”

“Sisanya buat aku, gimana? Lagian aku yang bayar.” Ucapnya lalu menuangkan saus dan kecap di mangkuknya.

“Udah. Nggak usah banyak-banyak sambelnya. Sayang, inget ya kamu punya sakit mag.” Akupun mengambil mangkuk sambel dan menutupnya rapat.

“Cieee yang perhatian. Hmm aku punya tebakan buat kamu.”

“Apa?” Tanyaku polos.

“Kamu tau nggak kenapa aku suka banget sama mie ayam di sini?”

“Enggak. Karena enak kan?”

“Karena porsinya banyak, murah, ada baksonya, dan yang terpenting… aku selalu makan di sini bareng kamu.” Aku tertunduk malu menyembunyikan wajahku yang tersipu.

Kutatap semangkuk mie ayam yang masih lengkap dengan baksonya. Aku tersadar. Tiga tahun sudah berlalu semenjak peristiwa itu. Semuanya sudah berubah. Aku, Dira, mie ayamnya, bahkan penjualnya. Sekarang, porsi mie ayam berkurang menjadi lebih sedikit, hanya terdapat dua bakso padahal dulu empat, dan yang lebih ajaibnya lagi penjualnya sudah ganti orang. Tempatnyapun sudah berubah total. Dulu masih sangat sederhana dengan tenda dan gerobak. Sekarang sudah menjadi kios unik dengan ornament macam-macam di dalamnya.

Dira, entah bagaimana aku sudah benar-benar kehilangannya. Ia telah benar-benar memilih untuk meninggalkanku. Semuanya tiba-tiba terjadi tanpa terlebih dahulu permisi. Bahkan sekuat apapun hatiku menolak, ia tak akan memiliki makna apapun untuk mencegahnya pergi. Takdir memang terkadang harus memaksa kita untuk mengerti. Saat harus melepaskan Dira, ketika harus benar-benar hidup tanpanya.

Dua tahun yang lalu peristiwa kelam itu telah berlalu. Dira terlibat dalam kecelakaan maut yang merenggut nyawanya. Kehilangan seseorang seperti Dira, sama saja kehilangan separuh hatiku. Entah bagaimana harus kulanjutkan hidupku. Sampai semuanya sudah berubah. Yang belum berubah hanyalah perasaanku pada Dira.

“Kayla ayo dimakan mienya sayang, nanti keburu dingin nggak enak lho.” Suara Dion mengagetkanku. Dia calon suamiku.

Labels: Cerpen
0 Komentar untuk "Kita dan Mie Ayam"

Lieve your comment below...

Back To Top