LightBlog

Followers

Blog Archive

Find Us On Facebook

Categories

Translate

Breaking

Recent In Internet

Recent Post

Video Of Day

Facebook

LightBlog

Recent

Adbox

Technology

Popular Posts

Sepucuk Harapan di Stasiun Kota

Aku duduk terdiam di tengah hiruk pikuk suasana stasiun. Bahkan aku samasekali tak tau apa tujuanku kemari. Untuk kembali memperparah rasa sakit yang pernah dibuatnya, mungkin saja. Karena dengan aku berdiam di sini, aku seolah merasakan kehadirannya kembali meskipun aku juga harus merasakan kehadiran lukaku kembali.

Dulu selalu ada yang kutunggu di tempat ini, sekarang akupun juga masih sama sedang menunggunya. Bedanya penantianku dulu selalu terbasuh dengan kehadirannya, kini tidak lagi, aku hanya menunggu orang yang tak pasti akan kembali. Semenjak ia putuskan untuk meninggalkanku, semenjak ia lebih memilih wanita itu daripada aku.

Dulu, ia selalu berjanji untuk pulang 2 minggu sekali untuk menemuiku. Ia berjanji akan menjadikanku wanita satu-satunya. Akan selalu bertahan terpisah jarak dan waktu untuk menjaga hatiku. Dan kulihat sekarang, ia sudah lebih bahagia dengannya. Tentu saja mungkin ia juga akan membuat janji yang sama dengan kekasih barunya itu. Bahkan ia mungkin akan benar-benar menepati janji itu untuk kekasihnya.

Bukan. Bukan munafik jika aku mendo’akan mereka akan menjadi kekasih terbaik. Hanya saja aku tak tau, yang mana itu luka dan yang mana itu bahagia. Hanya saja aku tak paham bagaimana itu tulus ataukah bagaimana itu menyerah. Karena aku berusaha untuk turut ikut bahagia ketika melihat kau bahagia, meskipun hatiku perih terasa. Bukankah begitu Kahlil Gibran bersyair dalam puisinya?

Aku semakin bergeming saat tiba-tiba kutangkap sosok yang kukenal dari sudut mataku. Aku menoleh, iya itu dia. Orang berdarah Jawa-Bugis yang pernah menjadi kekasihku dulu. Orang yang pernah mengajariku bagaimana itu memiliki dan melepaskan sekaligus. Si pemilik bibir tipis dan hidung yang luar biasa mancung yang pernah kulihat. Dan aku langsung saja menyadari bahwa dia gemukan. Ahh tentu saja, dia pasti sangat bahagia dengan kekasihnya. Aku ingin sekali menyapanya, aku sangat merindukan suaranya yang sering kudengar lewat seberang telepon dulu. Namun aku takut hatiku ini akan kembali mengucurkan darah luka lebih deras. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja. Hati ini masih belum begitu tegar untuk sekedar mendengar kabar baiknya dengan kekasihnya. Hati ini masih perlu banyak waktu untuk menjadikan semuanya menjadi seperti semula, sebelum kami pernah memiliki perasaan yang sama.

“Shila!” Aku terlalu berhalusinasi mendengarnya memanggil namaku. Mana mungkin dia menyadari keberadaanku, sudah 2 tahun kami tak pernah lagi bertemu. Mungkin saja dia sudah lupa wajahku. Aku sangat yakin ini hanya perasaanku yang terlalu banyak berharap.

“Hai.” Aku begitu terkejut ketika kudapati ia sudah berdiri di depanku. Ia menyapaku dengan senyum yang sama ketika ia terakhir kali tersenyum padaku. Ternyata ini samasekali bukan halusinasi.

“Ha.. hai.. Rafka ” Responku gugup. Aku kesal karena aku masih saja merasakan frekuensi detak jantung yang sama dengan ketika detik-detik pertama kali aku mulai mencintainya dulu.

“Bagaimana kabar kamu?” Tanyanya. Lagi-lagi dengan senyum charmingnya itu.

“Baik, kamu?”

“Baik juga. Sudah wisuda?”

“Sudah 3 bulan yang lalu.” Jawabku singkat.

“Kamu masih belum berubah ya Shil? Masih sama kaya Shila yang aku kenal dulu.”

Aku hanya terdiam. Tentu saja aku masih Shila yang dulu. Bahkan perasaanku padamupun masih sama. Tapi kamu yang menghancurkannya. Menghancurkan sebagian mimpiku yang awalnya kurancang karena aku dulu hidup denganmu.

“Kapan nikah?” Tanyanya setengah menggoda.

“Belum tau.” Dan jawaban ketus terpaksa harus meluncur ketika kurasa pertanyaannya semakin menyudutkanku. Menikah? Kita pernah pernah bermimpi untuk menikah pada saat aku berumur 25 dan kau 27. Memiliki 2 anak laki-laki yang tampan sepertimu. Memiliki rumah beratap kaca agar kita bisa melihat bintang dan air hujan mengalir di atasnya. Hah dan kini aku tak tau bagaimana caranya aku kembali membangun mimpi itu setelah tak ada lagi kamu di kehidupanku. Bukan hanya itu, bahkan hati ini masih belum bersedia untuk dihuni orang selain kau.

“Yuk buruan ke rumah ibumu. Aku udah dapet taxinya tuh, sayang.” Gadis itu. Ya, gadis yang memanggilnya sayang itu tentu saja kekasihnya. Kulitnya begitu putih seperti porselen yang tak pernah tersentuh tangan. Matanya bulat dan pipinya begitu merah semerah tomat. Rambutnya panjang terurai dan sedikit berombak bagikan Barbie. Kini aku tau alasan apa yang membuatnya lebih memilih gadis ini daripada aku.

“Sayang, kenalin ini Shila, temen SMAku.”

“Shila.”

“Aku Gerald. Geraldine. Seneng bisa ketemu kamu.” Ia begitu ramah menyapaku. Begitu sempurnanya dia. Kecantikan fisiknya sebanding dengan kecantikan hatinya. Salah jika aku harus membenci orang sebaik ini. Ia mungkin tak begitu mengerti dengan kisah ini, di mana aku pernah menjadi kekasih dari kekasihnya. Aku mungkin bisa menyerahkan kebahagiaanku untuk kebahagiaannya, namun aku tak sampai hati untuk membagi lukaku yang sudah berkarat ini pada gadis sesempurna ini.

“Dan ini.” Reno menyodorkan sebuah kotak kecil merah hati yang berornamen lucu. Aku membukanya. Dan itu seperti sebuah undangan.

“Datang ya.” Ucap Reno. Sementara aku masih sibuk membacanya. Di dalam undangan itu telah tertulis nama Reno dan nama kekasihnya, Gerald iya tentu saja namanya. Meskipun aku dulu pernah berharap namaku dan nama Reno akan tertulis di atas undangan yang sama. Memang , namaku tertulis dalam undangan itu, namun hanya sebagai nama tujuan undangan. Tak lebih.

“Ya sudah ya Shil, kita cabut dulu takut kesiangan. Jaga diri baik-baik ya. Di sini banyak copet.” Reno setengah berbisik pada kalimat terakhir sambil meninggalkanku pergi. Gerald tersenyum dan mengangguk padaku. Dan kukira inilah saatnya aku berhenti menunggu. Berhenti untuk memikirkan sosok yang sama sekali tak nyata, sosok yang hatinya tak tersisa lagi untukku. Dan sosok yang sebentar lagi akan benar-benar menjadi milik orang lain.

“Jaga diri baik-baik ya.” Kalimat itu, seakan menguatkanku. Itu pasti. Ya, aku akan selalu menjaga diriku dengan baik. Jangan lupa jika kau sudah menikah nanti jaga istrimu dengan baik. Jangan pernah kau kecewakan dia seperti kau pernah mengecewakanku. Tapi mana mungkin kau tega mengecewakan gadis sesempurna itu itu? Santai saja, aku akan baik-baik saja. Aku hanya perlu terbiasa menyadari bahwa kita akan melanjutkan masing-masing. Kau dengan Gerald, dan aku dengan orang lain kalau sudah kutemukan nanti. Dan untuk Gerald, titip Reno. Jaga dia sampe nanti kalian punya cucu ya…

~E N D ~

Labels: Cerpen
0 Komentar untuk "Sepucuk Harapan di Stasiun Kota"

Lieve your comment below...

Back To Top