Hari itu adalah hari kelimabelas semenjak kedekatan kita. Aku serasa ingin menghentikan waktu ketika dapat menatapnya lekat. Aku ingin detik-detik tak lagi berjalan saat berada pada jarak kurang dari semester darinya. Semenjak kita saling membalas, aku berkata hai dan dia pun tersenyum. Semenjak kumelihat gadis itu menangis lalu kuulurkan tisyu untuknya. Semenjak dia berucap terima kasih karena telah menghadirkan senyumnya kembali. Semenjak aku memiliki kesempatan untuk bisa membuatnya lebih berarti.
Aku semakin tak pernah takut untuk bermimpi, termasuk memimpikan untuk tidak hanya memilikinya dalam setiap ruang khayalku, namun juga di alam nyata. Tapi entahlah, kepercayaan diriku terlalu naïf sebagai seorang lelaki. Kemudian relung hati terkecilku selalu bilang untuk tetap berhati-hati dengan mimpi. Lagi-lagi ia berbicara tentang realistis. Kini, aku tersadar bahwa realistis itu tak ubahnya sebuah keputus asaan. Tentu saja aku tak ingin menyerah sebelum aku tau jawabannya. Mungkin saja ini takdir yang telah direncanakan Tuhan untukku.
Lalu malam itu, aku mulai merajut kembali satu-per satu mimpi. Dan mencoba membuatnya untuk tak sekedar menjadi mimpi. Tepat pada hari ke tujuh belas kedekatan kita. Seikat mawar merah segar di jok belakang mobilku kutatap berkali-kali sebelum sampai rumah gadis itu, Bintang. Ya Bintang namanya, gadis yang telah lama kuperhatikan kehidupannya dalam diam sejak hari pertama kuliah. Dua tahun mengaguminya dalam diam, dua tahun tanpa pernah peduli seorang lelaki yang selalu berjalan di sampingnya. Dua tahun tanpa pernah menyapanya padahal hatiku selalu merindukannya.
Rumahnya sudah dekat. Hatiku bergetar hebat saat mengetuk pintu rumahnya. Tentu saja Bintang yang membukakannya. Andai saja semudah itu ia membuka pintu hatinya seperti membuka pintu rumahnya untukku.
Ia terlihat begitu berbeda malam ini. Dan satu kata yang selalu aku ingat sejak ku mengaguminya pertama kali. Cantik.
“Aku pengen bicara sesuatu sama kamu.” Ucapku pelan.
“Kok samaan sih? Aku juga punya kabar baik.”
“Oke. Lady is first.”
“No. Man is first.”
“Oke, jadi… Aku pengen bilang…” nafasku tertahan. Lidahku terasa kelu untuk mengucap.
Tiba-tiba dering ponsel Bintang mengagetkan kami. Bintang berjalan keluar untuk menerimanya.
Dua menit, tiga menit, lima menit, seperti mengurungku dalam sebuah kegugupan. Apa harus seberat ini untuk mengungkapkan sebuah perasaan?
Lalu aku kembali dikagetkan dengan teriakan kegirangan Bintang dari arah pintu. Dia menari-nari dengan begitu bahagianya.
Cerita Bintang pada malam itu mengubur kembali mimpi-mimpiku. Laki-laki itu datang lagi dalam kehidupan Bintang. Dan kejujuran yang ingin kuutarakan padanya, menjadi sebuah kata yang tak akan pernah bermakna dan mengada-ada.
“Oiya. Kamu mau cerita apa tadi?”
“O.. oh.. Iya. Akuu… aku… Cuma pengen bilang kalo laporan penelitianku tembus dan langsung nilai A.”
Saat perjalanan pulang aku hanya bisa membawa sebuah remuk redam. Mimpiku tentang Bintang kembali menjadi sebuah mimpi. Nasehat tentang kesempatan ternyata tak cukup memberikan isyarat untuk dapat menjadikannya lebih. Bahkan seikat mawar yang tadi kubeli belum sempat aku berikan.
Biarlah, jalan cerita ini pasti akan menemukan muaranya. Bagiku ini belum menjadikan akhir. Jiwaku belum ingin menyerah meskipun terkadang hatiku pasrah. Tak khayalnya pelaut yang selalu menemukan bintangnya sebagai penunjuk arah. Begitu juga dengan aku, yang memilihnya untuk selalu menjadi inspirasi dalam setiap detak dan detik kehidupanku.
Aku memang hanyalah sang penghapus air mata di kala ia gundah, namun bahagianya, hanya jika Bintang bersama laki-laki itu. Aku hanyalah seseorang yang kebetulan hadir di kehidupannya, saat ia rapuh dan terjatuh.
Bagiku bukanlah hal penting ia akan menjadi milikku atau tidak. Bintang sudah lama tinggal dan menyisakan banyak jejak yang sulit terhapus di kehidupanku. Ia telah mengajariku banyak hal, aku belajar menunggu, setia, berahasia, menjaga, dan merelakan perasaan setiap melihat laki-laki itu bersama Bintang.
Mungkin benar bahwa elang tak akan pernah bisa menggapai bintang. Setinggi apapun ia terbang. Dan aku tak perlu menggapainya untuk sekedar merasa bahagia. Bahkan cukup dengan melihat sinarnya, sudah lebih dari cukup bagiku untuk menguraikan makna dari bahagia itu sendiri.


0 Komentar untuk " Curhatan Elang "
Lieve your comment below...