LightBlog

Followers

Blog Archive

Find Us On Facebook

Categories

Translate

Breaking

Recent In Internet

Recent Post

Video Of Day

Facebook

LightBlog

Recent

Adbox

Technology

Popular Posts

Curhatan Elang (bagian 2)

Matahari masih tak begitu tinggi saat pandangan kami bertemu. Posisi kami masih berjarak 5 meter. Laki-laki di sampingnya tak juga melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Bintang. Mereka tak benar-benar lewat depanku. Kami hanya kebetulan saling melihat lalu saling membalas senyum.

Denyut rasa ini masih sama, remuk yang menjalar di setiap aliran darah juga belum juga mereda. Kemudian kulempar pandanganku menuju sisi terjauh di mana ku tak dapat lagi melihat dua manusia yang sedang bergelayut manja itu. Apakah aku marah? Tidak. Aku tak akan pernah marah sekalipun ia masih saja bersemayam dalam lembaran-lembaran imajiku. Bahkan aku begitu menikmatinya, karena aku masih saja tak bisa menemukan obat lain untuk menawar rasa rinduku padanya.

Aku meneruskan langkahku menuju perpustakaan. Samar-samar kudengar derap langkah kaki terburu-buru di belakangku.

“Elang, kamu mau ke mana?” suara itu, sepertinya kukenal. Ternyata Bintang.

“Mau ke perpus, gimana?”

“Oke aku ikut. Aku butuh bantuan kamu buat nyelesaiin laporan aku.” Aku melirik ke arah tempat tadi laki-laki itu menggandeng Bintang.

“Udah nggak papa ayooo…” Bintang seolah mengerti maksudku dan segera mendahului menuju perpustakaan.

Di dalam perpustakaan tak banyak yang kami bicarakan. Kami hanya berbicara tentang tugas-tugas yang kami kerjakan bersama.

Dan lagi-lagi, aku begitu menikmati keadaan ini. Menatap lekat setiap lekukan garis wajahnya yang anggun. Hatiku masih saja tak dapat mengelak aku tengah berhadapan dengan tatapan sang pemilik pemancar sinar kedamaian. Suaranya seolah dawai yang mengalun merdu yang membingkai lipatan waktu. Ia, sang pemilik jiwa kelembutan hawa sejati yang diam-diam menarik hati anak adam yang jauh dari kesempurnaan sepertiku. Waktu terus saja berjalan menyisir keadaan sampai saatnya tiba Ia harus beranjak dari kursinya.

“Aku pulang duluan ya, sudah ditungguin Rei di depan.”

“Iya, barengan sekalian ya ke depannya…”

Kami berjalan bersama hingga batas dinding berkaca memisahkan kami. Langkahku terhenti menghitung langkah Bintang yang semakin jauh. Lalu laki-laki itu muncul dan kembali merengkuh lengan Bintang. Hari ini aku merasa sedikit menang hanya dengan beberapa menit dapat melihat wajah bidadarinya, mendengar kelembutan suaranya, dan merasakan betapa anggun jiwanya.

Selepas pertemuan itu, selalu saja terdapat secercah duka yang mendekap luka. Mengungkap sebuah retorika yang selalu menjadi tanya yang tentu saja jawabnya tidak. Aku bergeming sendiri, menyadari tak akan pernah ada kau dan aku dalam cerita masa depan. Namun hati terdalamku kembali menampiknya, bahwa takdir bisa saja berubah karena tangan Tuhan tak pernah berhenti membagi kedamaian.

Aku tak pernah memiliki nyali untuk sekedar mengungkapkan perasaan ini pada Bintang, apalagi tanganku, ia tak pernah memiliki kekuatan untuk merebutnya dari laki-laki itu. Entahlah, aku selalu memiliki persepsi bahwa aku sudah cukup bahagia dengan khayalan yang kubuat sendiri. Bahkan aku masih saja bisa tersenyum untuk menghadapi dunia meski simpul-simpul perih terkadang menjerat sebelah hatiku.

Aku menamainya perjalanan kesabaran yang teramat menguras logikaku. Aku masih saja memiliki waktu untuk diam-diam memperhatikannya meskipun aku berpikir untuk berhenti melakukannya. Aku masih saja memikirkannya meskipun aku berpikir untuk tidak memikirkannya.

Untukmu gadis yang sedang dimiliki orang lain, sekali lagi maaf karena aku masih saja mengeja namamu dalam setiap desah nafas yang dititipkan Tuhan untukku…

Labels: Cerpen
0 Komentar untuk "Curhatan Elang (bagian 2)"

Lieve your comment below...

Back To Top