LightBlog

Followers

Blog Archive

Find Us On Facebook

Categories

Translate

Breaking

Recent In Internet

Recent Post

Video Of Day

Facebook

LightBlog

Recent

Adbox

Technology

Popular Posts

Asumsi

Terkadang, ilusi yang kita buat sendiri bisa menjadi racun di esok hari. Ketika sesuatu terlihat seperti, kita akan memiliki anggapan seperti itu setiap hari. Asumsi, persepsi, dan segala hal yang mirip ilusi sebenarnya cuma angan-angan yang suatu saat bisa melukai. Siapkah kita jika tiba saatnya nanti dihadapkan kenyataan yang samasekali jauh dari harapan? Ikhlaskah kita kalau seandainya esok hari fakta yang kita dapatkan tak sesuai dengan anggapan?

There will never be a disappointment, if there is no expectation

Waktu itu, ada seorang teman yang bercerita. Bukan bermaksud mengumbar aib atau bagaimana, tapi sepertinya ada pelajaran yang bisa diambil darinya.

Ada seorang laki-laki yang begitu baik padanya. Baik, terlampau baiknya sampai si teman saya ini terpesona. Ini terlihat ketika kami berjumpa, dia menjadi semakin rajin bercerita tentang si laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta. Sampai dia sekeras baja memiliki keyakinan 1000 persen kalau si laki-laki punya perasaan yang sama. Sampai-sampai satu kata “hai” darinya saja sudah seperti angin surga baginya.

Saya jadi teringat kutipan Tere Liye tentang asumsi yang diungkapkan Pak Tua pada novelnya yang berjudul “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

Berasumsi tentang perasaan, sama saja dengan membiarkan hati diracuni harapan baik, padahal bisa jadi kenyataannya tak seperti ittu, menyakitkan.

Lama-lama, curhatan kebanggaan teman saya soal dia yang begitu dicinta, berubah menjadi harapan-harapan yang semakin menyedihkan. Berubah menjadi keluhan. Ketika ternyata, si laki-laki mengakui kalau sebenarnya, dia menyukai teman satu kelasnya, yang sering bersama teman saya ke mana-mana.

Jangan terlalu dalam mendefinisikan kebaikan seseorang, jangan terlalu cepat menerka kalau dia cinta, dia suka. Siapa tau, dia memang baik kepada siapa saja. Siapa tau, kita yang terlalu kegeeran dengan kehadirannya. Padahal, dia memang orang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Kalau begini saja kita sudah menerka kalau dia suka, dia cinta, kita bisa sering terluka.

Kalau kelak nanti kita jadi sakit hati karena asumsi kita sendiri, apa kelak kita bisa mengobati luka sendiri? Apa lantas kita akan menyalahkan orang baik yang datang, lalu pergi? Menyebutnya pemberi harapan palsu, padahal kita sendiri yang secara alami membuat diri kita menunggu?

Daripada memutuskan untuk jatuh cinta cepat-cepat, kenapa tak membuat diri kita jadi lebih hebat dengan menunggu untuk didampingkan bersama orang yang tepat?

0 Komentar untuk "Asumsi"

Lieve your comment below...

Back To Top