Kita, yang kehidupannya sudah serba dimudahkan dengan fitur online dan semacamnya, rasanya tidak pantas untuk mengeluh apa-apa. Dengan sedikit usaha, kita sudah bisa memanfaatkan berbagai jasa online tanpa perlu ke mana-mana. Delivery order bahkan sampai jual beli barang dan jasa, rasanya sudah serba dimudahkan penggunaannya. Kalaupun kita ingin makan, rasanya gengsi kalau cuma nongkrong di kaki lima. Seringnya, kita ingin tampil keren dengan meng-upload foto instagram kita di restoran bintang lima.
Bahkan, ketika malas berjalan sampai pengkolan ojek di depan, Gojek lah ahlinya. Untuk urusan travelling ke mana-mana, ada traveloka. Soal membeli barang-barang bekas, kita sudah punya OLX dan teman-temannya. Apalagi soal baju dan busana, sudah ada Zalora.
Tapi sadarkah kita? Ketika kita lebih sering membeli barang-barang branded berkualitas impor via dunia maya, kita juga sedang melupakan para penjual berbagai pakaian di pasar tradisional yang keuntungannya tak seberapa. Ketika kita bingung menentukan makan di mana atau delivery saja, kita juga sedang memandang sebelah mata bapak-bapak penjual mie tektek keliling yang rela bangun pagi-pagi atau ibu-ibu yang membuka lapak sate dan bubur ayam di pinggir jalan raya.
Kalau seandainya nanti dunia benar-benar berubah menjadi serba online dan digital, masih adakah harapan untuk mereka yang mungkin bekerja lebih keras dari yang lainnya namun penghasilannya terpaksa dikebiri? Haruskah keberadaan para pedagang kaki lima perlahan terkikis, kalah dengan pihak penertiban satpol PP dan juga jasa delivery?
Rasanya kehidupan semakin tak adil bagi mereka yang masih menggunakan cara-cara konvensional dalam memasarkan dagangan dan jasanya. Memang, dunia sedang menuntut manusia untuk serba kreatif dalam apa saja. Tapi untuk mereka yang tak lagi muda dan sudah tak mampu untuk mengikuti trend perkembangan dunia, mereka bisa apa?
Cuma kita yang tau diri dan sadar bahwa kehidupan harus selalu adil yang bisa tetap menjaga keseimbangan pasar di dunia nyata. Rasanya lucu, kalau kita maunya menawar barang para pedagang kaki lima dengan harga yang serendah-rendahnya, dan mau membayar berapa saja untuk makan di kafe sekelas bintang lima.
Sekali-kali, cobalah jalan-jalan ke pasar atau kaki lima. Rasakan sesaknya, panasnya, atau mungkin suasananya. Tidak selamanya membeli di sana tak terjamin kualitasnya. Tak semua pedagang di sana nakal dan tak bisa dipercaya seperti yang pernah kita tonton di berita. Ada nenek-nenek renta yang memohon kepada siapa saja yang lewat untuk segera memborong dagangannya, ada ibu-ibu yang menjual murah hasil panen sayur kacang panjangnya hanya demi biaya sekolah anaknya. Ada berbagai kehidupan yang bergantung di tangan kita—sebagai calon pembeli di sana.
Kalau sudah begini, tak bisakah kita menyadarinya saja, Bukankah Allah juga menitipkan rezeki mereka lewat tangan kita? Ada hak mereka pada setiap rezeki yang kita punya. Dan… bukankah tujuan hidup sebenarnya hanya sederhana saja? Tak bisakah kita membantu mereka dengan jalan yang sedikit berbeda? "Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya."



0 Komentar untuk "Bukankah Tujuan Hidup Sebenarnya Hanya Sederhana Saja?"
Lieve your comment below...