LightBlog

Followers

Blog Archive

Find Us On Facebook

Categories

Translate

Breaking

Recent In Internet

Recent Post

Video Of Day

Facebook

LightBlog

Recent

Adbox

Technology

Popular Posts

Esensi Patah Hati

Siang masih begitu sepi ketika tak kudapati matahari. Langit lebih gemar menjajakan air beberapa hari belakangan ini. Kutengadahkan kepalaku, memastikan bahwa mungkin hujan belum akan berhenti. Rintiknya terus berirama berjatuhan ke bumi, membuatku tak pernah bisa lupa mengapa aku begitu menyukai hujan, menjejalkan segala kenangan lewat genggaman rintik air di sela jemari.

Di sudut bangunan ini, ada beberapa peristiwa yang enggan kulewatkan begitu saja. Aku begitu rindu di mana kau terbiasa membagi semua denganku, tertawa menceritakan segala hal tentang kita sehabis pelajaran berakhir, sambil menunggu hujan reda. Aku rindu mata teduhmu saat kau berkata, “Berhijab itu memang pilihan, tapi juga kewajiban.” Aku rindu saat kau mengajarkanku bagaimana seharusnya aku memakai hijab untuk pertama kalinya.

“Kau tak pulang?” Gita muncul dari belakangku. Bersiap segera pulang setelah kajian selesai.

“Tidak. Aku lupa ndak bawa payung.” Jawabku sambil tersenyum malu.

“Lupa apa sengaja nggak bawa?” Ia memojokkanku.

Aku hanya bisa tersenyum tipis. Menyadari kalau tadi pagi payungku malah kukeluarkan dari tas dan membiarkannya tertinggal di meja belajarku.

“Adisa adisa… jangan terlalu mencintai hujan. Kalau kau terlalu mencintai hujan, nanti pelangi ndak bakal muncul lho…”

Aku setengah tertawa menanggapi jawaban Gita. Menertawai diri sendiri karena terlalu menjiwai esensi dari rasa kehilangan ini. Aku begitu mencintai hujan hingga lupa rasanya terhangatkan matahari. Ternyata begini rasanya patah hati ya mbak, aku patah hati karena Allah mengambilmu terlalu cepat. Untuk apapun yang sudah kau lakukan untukku mbak, aku hanya bisa mengirimkan do’a yang kutitipkan lewat ujung jari-jemari, lewat cerita ini.

Labels: Cerpen
0 Komentar untuk "Esensi Patah Hati "

Lieve your comment below...

Back To Top