LightBlog

Followers

Blog Archive

Find Us On Facebook

Categories

Translate

Breaking

Recent In Internet

Recent Post

Video Of Day

Facebook

LightBlog

Recent

Adbox

Technology

Popular Posts

Sajak bang Tere

[Apa yang tidak pernah, bukan berarti]

Apa yang tidak pernah tersampaikan oleh kata-kata. Bukan berarti dia tidak pernah tersampaikan

Apa yang tidak pernah dituliskan oleh huruf-huruf. Bukan berarti dia tidak pernah dituliskan

Apa yang tidak pernah dikirimkan lewat pak pos, mamang kurir, atau sekadar angin, perantara bulan purnama, bintang-gemintang. Maka bukan berarti dia tidak pernah dikirimkan

Apa yang tidak pernah dihamparkan di atas rumput menghijau, di atas halaman sekolah, atau sekadar di langit-langit kamar. Maka bukan berarti dia tidak pernah terhamparkan

Wahai, boleh jadi sungguh hal itu telah disampaikan, oleh kerling mata. Boleh jadi sungguh sudah dituliskan, lewat gesture wajah. Mungkin saja sudah dikirimkan, melalui simbol-simbol laksana simbol asap suku pedalaman. Dan bahkan telah dihamparkan melalui semuanya, segalanya

Tidakkah kau mengerti?

Sungguh, apa yang tidak pernah dibisikkan oleh mulut kita. Bukan berarti dia tidak pernah dipanjatkan. Dipanjatkan lewat doa-doa, lewat diam, lewat keheningan hati yang terhormat. Maka menjalin tinggi ke atas sana. Menunggu jawaban yang pasti dan melegakan hati. Tidak akan merugi bagi yang paham. -Darwis Tere Liye

***

[Bukankah, atau bukankah]

Bukankah, banyak yang berharap jawaban dari seseorang? yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya. “jadi, jawaban apa yang harus diberikan?”

Bukankah, banyak yang menanti penjelasan dari seseorang? yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa. “aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?”

Bukankah, banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang. yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji. “kau menungguku? sejak kapan?”

Bukankah, banyak yang menambatkan harapan. yang sayangnya, seseorang itu bahkan belum membangun dermaga. “akan kau tambatkan di mana?”

Bukankah, banyak yang menatap dari kejauhan. yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain

Bukankah, banyak yang menulis puisi, sajak2, surat2, tulisan2. yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama. pun bagaimanalah akan membacanya

Aduhai, urusan perasaan, sejak dulu hingga kelak. Sungguh selalu menjadi bunga kehidupan. Ada yang mekar indah senantiasa terjaga. Ada yang layu sebelum waktunya. Maka semoga, bagian kita, tidak hanya mekar terjaga. Tapi juga berakhir bahagia. -Darwis Tere Liye

0 Komentar untuk "Sajak bang Tere"

Lieve your comment below...

Back To Top