Aku tertegun sendiri pada malam yang tak kunjung menjemput pagi. Entah untuk yang ke berapa kali aku mengingatmu hari ini. Telak tanpa celah bergolak pecah. Terjaga hanya untuk perasaan semacam ini. Begitulah perasaan yang kumiliki. Dangkal, sama sekali tak bernaluri. Berceceran di otak, menyusup ke sel-sel darah hati tanpa ampun, tanpa permisi.
Sungguh tak pernah ada yang salah dengan perasaan. Namun juga sungguh aku samasekali tak ingin menghamba pada hal ini, menjunjung tinggi, seolah setiap jamku ditebas habis oleh perasaan ini. Hanya saja perlawanan ku berkali-kali mati. Merembas pada setiap ilusi dan asumsi yang kubuat sendiri. Jatuh pada sebuah mimpi yang berujung sepi.
Kemudian karena perasaan ini, sederet tulisan mulai berjajar rapi. Bak penggubah amatir yang mencoba menyusun kata-kata penggugah energi. Menggali berbagai frasa yang menyesak dari seluruh penjuru mata angin. Lalu, hanya dengan begini aku bisa merasakan bagaimana penulis mengilhami kehidupannya sebagai referensi.
Biarkanlah, perasaan ini berceceran di hati, asal ia tak berceceran di mana-mana, di media sosial, atau yang lebih memalukan lagi berceceran di “message”mu. Biarkanlah sekali-kali perasaan ini tertulis dengan sangat-sangat berlebihan. Bukankah sastrawan terkenal karena keter-berlebihannya?
Kali ini aku tak kalah telak lagi. Setidaknya dengan beberapa deret tulisan ini, tanpa sedikitpun melewatkanmu yang berceceran. Ah dasar perasaan !
Ditulis pada : 13 Januari 2013 satu jam sebelum subuh.


0 Komentar untuk "Dasar Perasaan!"
Lieve your comment below...