LightBlog

Followers

Blog Archive

Find Us On Facebook

Categories

Translate

Breaking

Recent In Internet

Recent Post

Video Of Day

Facebook

LightBlog

Recent

Adbox

Technology

Popular Posts

Untitled

Aku tertegun menikmati kebisuan di sudut dinding apartemen. Ada sebuah kehilangan yang meretas ketika kutatap pintu di apartemen sebelahku.

Hal ini bermula ketika aku pertama kali mengenal gadis yang tinggal di sebelah apartemenku. Namanya Karin, seorang mahasiswi kedokteran di Makassar yang kebetulan di kirim ke Jakarta selama 3 bulan untuk sebuah penelitian. Ia datang begitu saja tanpa ada hal yang berarti di kehidupanku.

Namun dugaanku menjadi terasa sangat salah sejak kami terbiasa saling menyapa setiap hari, berawal dari setiap pagi, saat masing-masing dari kami akan memulai hari-hari kami. Hingga intensitas perjumpaan kami bertambah saat aku mulai gemar menghabiskan akhir pekanku dengannya. Saat kami mulai terbiasa bermain karambol bersama di ruang tamu apartemenku sewaktu insomniaku kambuh, saat kami mulai sering saling memperhatikan satu sama lain. Kedekatan kami sungguh tak memiliki nama. Aku juga merasa terlalu naïf untuk menyebut ini cinta. Aku samasekali tak memiliki keberanian untuk menjanjikan sebuah ketegasan dalam hubungan ini.

Sampai pada saatnya Karin bertanya tentang wanita yang gambarnya selalu bertengger di dompetku.

“Cewek yang ada di foto di dompet kamu, itu pacarmu kan?”

Aku membisu. Memaknai setiap helaan nafasku sendiri yang mulai tak teratur sambil menyusun perbendaharaan kata yang akan kuungkapkan pada Karin.

“Cantik ya..” Ungkapnya dengan penuh antusias, samasekali tanpa menyiratkan makna yang berarti lebih. Namun bagiku, itulah kalimat yang paling berat yang bermakna lebih yang pernah kudengar.

“Namanya Deasy. Dia adik angkatan kuliahku di Surabaya. Hubungan kita udah hampir dua tahun berjalan. Sekarang dia lagi skripsi. Mungkin beberapa bulan lagi dia bakal nyusul aku ke Jakarta.”

“Oh gitu.” Jawabnya singkat.

Aku bisa menangkap kekecewaan itu di matanya dengan begitu jelas. Aku sangat paham bagaimana detailnya dia memperhatikanku, berlaku manis padaku, semua hal yang dia lakukan. Aku teramat paham dan mungkin, itulah cinta. Meski diantara kami belum sempat saling membicarakannya, walaupun diantara kami belum pernah samasekali berbicara soal tentang perasaan.

“Kamu lihat foto Deasy waktu dompet aku ketinggalan tadi siang ya?” Karin mengangguk pelan, aku mulai gelisah ketika ia menundukkan kepalanya. Meskipun aku bukan peramal, tapi aku yakin bahwa paling tidak ia sedang berjuang keras untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Sekali laki aku mendengus, memaknai perasaan bersalah yang mengusik pikiranku.

“Emm, ok aku balik ke kamarku dulu ya, ada laporan yang belum aku selesaiin.”

“Oke,”

Aku ingin menahan Karin untuk duduk lebih lama di sini denganku, seperti biasanya. Kali ini ada perasaan lain yang mencegahku. Perasaan untuk tidak ingin menjatuhkan harapannya lebih jauh lagi. Lalu kenapa baru sekarang? Kenapa bukan dari awal aku menghindar darinya? Aku memang bodoh karena tak seharusnya menyambut kebaikan Karin dengan sedalam ini. Harusnya aku memperlakukan Karin sebagaimana layaknya tetangga apartemen yang lain. Seharusnya.

Pagi-pagi sekali aku bertemu Karin di lobi apartemen. Aku tersenyum dan dia membalas senyumku. Bedanya, Karin tak sehangat biasanya. Dia seperti terburu-buru meninggalkanku. Aku mencoba berasumsi bahwa Karin sedang benar-benar sibuk dengan penelitiannya.

Malam hari selepas aku pulang kerja kulihat apartemen Karin masih gelap, tak ada tanda-tanda Karin ada di dalamnya. Aku menunggunya di balkon sampai waktu menunjukkan pukul 23.30. Karin belum juga terlihat. Dan ini sudah ke puluhan kalinya kutekan call di layar ponselku, lagi-lagi jawaban operator yang tersambung. Nomernya tidak aktif. Aku hampir gila semalaman menunggu Karin pulang. Entah ini perasaan apa namanya, sampai aku rela tertidur di kursi balkon berharap Karin membangunkanku.

Pagi harinya, ketika aku baru saja sampai kantor, aku seperti mendapat hembusan angin surga saat mendapati nama Karin memanggil lewat ponselku.

“Halo Karin kamu ke mana aja sih?”

“Maaf ya. Aku dari semalem lagi nyari-nyari tempat kos yang cocok. Terus pas pulangnya uda malem banget jadinya aku nginep di kos-kosan temen.”

“Kamu mau ngekos?” Aku sedikit kaget dengan jawaban Karin.

“Iya. Pengen hemat. Hehe.”

“Bukannya kamu di apartemen itu udah dibiayain sama kampus?”

“Ya nggak papa lumayan kan duitnya bisa buat yang lain…”

“Oh gitu.”

“Yaudah ya, aku mau packing nih. Entar udah mulai pindahan. Dah Kevin…”

Dia akan segera pergi.

Aku terdiam. Hening, menghitung seberapa jauh aku membiarkan perasaan ini mengalir begitu saja. Mungkin ini saat yang tepat untuk melepaskan Karin. Meskipun rasa sakit ini mulai menyandera seluruh pikiranku. Aku terdiam, mengucapkan selamat datang pada duri-duri yang siap menerkam hatiku dari segala sisi.

***

Aku bahkan tak ingat sudah berapa hari Karin tak lagi tinggal di sini. Tapi entah kenapa aku seperti orang bodoh yang seperti sedang menunggu Karin datang kembali di sini. Tersenyum untukku. Dan aku sadar itu tak akan pernah mungkin.

Kini tak kudapati lagi sosok Karin yang biasanya berdiri di ujung dinding apartemennya sambil komat-kamit menghapalkan istilah-istilah kedokteran. Pintu apartemen itu telah terkunci rapat meskipun terkadang masih meninggalkan jejak penghuninya.

Kuseruput sedikit demi sedikit teh hangat buatanku sendiri, kubiarkan pintu apartemenku terbuka demi membiarkan rasa kehilangan ini semakin membabi buta. Saatnya sebuah lagu terputar dari mp3 playerku,

Oh, I'm sorry for blaming you
For everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you

Some days I feel broke inside
But I won't admit
Sometimes I just wanna hide
'Cause it's you I miss
And it's so hard to say goodbye
When it comes to this, ooh

Would you tell me I was wrong?
Would you help understand?
Are you looking down upon me?
Are you proud of who I am?

(Christina Aguilera, Hurt)

Tak kudengar lagi nyanyian suara pecah Karin yang terdengar sangat berisik ketika aku sedang sibuk menyelesaikan tugas kantorku. Hingga aku harus terpaksa menggedor-nggedor pintunya dan berteriak memarahinya.

Tak ada lagi partnerku bermain karambol, yang selalu rutin mencorengkan bedak tabur di mukaku di setiap akhir permainan, tak peduli aku yang menang atau yang kalah. Tak ada lagi dan tak ada lagi. Hanya kata itu yang aku rapal berkali-kali sejak tadi. Kuteguk habis tehku yang sudah tak lagi panas. Aku memeluk lututku sendiri sambil terus memandangi pintu apartemen di seberangku. Berharap ia terbuka dan Karin keluar dari sana sambil menguap dan mengucek matanya.

Mana mungkin. Ia sudah terlanjur pergi. Menutup diri dan menjauh bahkan sebelum perasaan kami sama-sama terungkap.

Created on : ‎Monday, ‎July ‎08, ‎2013, ‏‎11:47:01 PM

Labels: Cerpen
0 Komentar untuk "Untitled"

Lieve your comment below...

Back To Top