LightBlog

Followers

Blog Archive

Find Us On Facebook

Categories

Translate

Breaking

Recent In Internet

Recent Post

Video Of Day

Facebook

LightBlog

Recent

Adbox

Technology

Popular Posts

Problema Perjalanan Menuju Halal

Well, I just don't believe that I can go this far. I have been officially a wife from a man. It has been several months since the day I married. 

Apa rasanya menikah?

Banyak. Berhubung umur pernikahan kami belum terlalu lama, tapi ini bisa menjadi inspirasi buat siapapun kalian. Biar tidak terlalu membosankan, I just want to share dari persiapan pernikahan sampai pasca pernikahan yang Alhamdulillah akhirnya terealisasi dengan sangat lancar.

1. Lamaran

Jadi, jarak waktu lamaran ke waktu pernikahan kita ternyata lumayan kejauhan. Kita kenal udah dari lama, dan entah kenapa pas aku nyeletuk "kenapa kita nggak nikah aja?" ternyata langsung diaccept sama doi. Kaget dan seneng dong!!! Kyaa..

Akhirnya, beberapa saat setelah itu kita memutuskan untuk pulang kampung which is kita berdua sama-sama anak rantau yang kotanya sebelahan doang. Jangan dulu ngebayangin ada makan malam romantis, candle light dinner deh pas proposing a marriage ya, boro-boro ucapan will you marry me aja nggak ada. Wkwkwk

Sesudah tercetus ide aneh itu, kemudian aku memberanikan diri ngobrol sama bapak-ibu via video call. Alhamdulillah, langsung dapat respond positif dari mereka. Ya memang, mereka udah kenal sama doi juga sih. Udah sering main ke rumah juga. 

Dan, diskusi soal pra lamaran ini lumayan lama juga tuh, gak cukup sekali dua kali telpon. Aku juga harus menceritakan kekurangan dan kelebihan calon saya ini dan mengungkapkan alasan kenapa aku mau dipinang sama lelaki ini. Sempat bingung dan nggak ngerti cara ngomongnya gimana. Akhirnya, Bapak pun menjawab, "Udah, yang penting kamu pulang dulu. Kita ngobrolnya di rumah."
Sempet deg-degan tuh pas mau pulang kampung. 

Tapi akhirnya, setelah aku sampai di rumah, si Bapak bilang gini juga, "ya coba aja suruh dia datang sama keluarganya. Kalau memang udah mantap pilihanmu, Bapak sama ibu juga mantep. Bapak sama ibu yakin, apa yang sudah jadi pilihanmu sudah dipikir mateng-mateng."

Intinya begini, setiap kita ingin mengutarakan sesuatu sama orang tua, harus dengan baik-baik. Terus, yang jelas di waktu dan tempat yang pas.

Akhirnya, hari lamaran pun tiba meskipun sebelumnya sempet ada drama juga karena doi ketinggalan kereta. Ada pula personil iringan lamaran yang katanya nggak perlu sama ibunya (adat daerah pihak laki-laki). Macam mana? Terus gimana Bapak Ibuku bisa kenal sama kedua orang tuanya which is mereka samsekali belum pernah ketemu.

Bahkan hal sepele macam gamis yang sengaja disiapin jauh-jauh hari buat lamaran malah ketinggalan di kos saja bisa bikin BT setengah mati. Walhasil, aku pake jarit sama kebaya ibu jaman ABG dulu. Hmm, dari situ aku baru sadar ternyata memang siklus fashion itu berputar doang.

Lamaran pun benar-benar sederhana, hanya mengundang beberapa saudara dan tetangga terdekat dan berbekal cincin perak sepasang seharga 500 ribu. Ada backdrop dan foto-foto session nggak? Seserahan? Sama sekali nggak ada. Karena, seserahan hanya akan diawa ketika hari akad tiba.

Jadi lamaran itu pure perkenalan keluarga dan makan-makan aja. Sekaligus, diskusi soal tanggal. Oh iya, ini juga bikin pusing. Kita minta pernikahan itu sebelum puasa. Tapi katanya, nanti saudara-saudara nanggung datengnya, soalnya sebenatr lagi kan lebaran. Mereka pulang kampungnya  jadi double. Yasudah, kita pengennya syawal. Syawal? Hmm, ternyata ada hitungan Jawa dari Pakdeku yang agak aneh. Jadi kita nggak bagus kalo nikah di Syawal. Dan akhirnya tanggal fix di bulan Dzulkaidah.  Well, kita punya waktu 6 bulan untuk prepare uang dan segalanya. 

2. Godaan setelah dipinang

Kalau udah dipinang, katanya nggak boleh menerima pinangan laki-laki lain. Tapi entah kenapa setelah dilamar, ajakan untuk membangun rumah tangga dari beberapa orang malah semakin banyak berdatangan. Seakan-akan pilihan semakin bervariasi.

Tapi ya namanya sudah istiqarah dan memantapkan hati sih, mau digoda dengan apapun ya malah semakin mantap. Saya fokusnya kerja dan ngumpulin uang buat bantu-bantu beli keperluan untuk menikah.

3. Dilema Nikahan sederhana atau rame-rame

Sebenernya, aku tuh tipe orang yang nggak pengen ribet. Nikah ya nikah aja nggak usah kebanyakan acara, malahan kalau perlu nggak perlu rame-rame. 

Sejujurnya, di kepala ini sudah terkonsep sebuah rencana: Sewa backdrop sejutaan sama tukang foto gitu, bikin gaun putih sama jas. Dan akad nikah di masjid outdoor yang kebetulan di deket rumah ada yang cakep masjidnya. Terus ngundang saudara deket aja sama anak yatim. Selesai akad nikah, makan-makan, bubar.

Si doi juga sudah setuju buat nikah yang sepi-sepi aja biar nanti uangnya bisa dialokasikan buat yang lain, nabung buat beli rumah gitu? Udah deal banget tuh kita berdua.

Tapi, rencana tinggal rencana ketika ibu saya bilang: "Masa nikah gitu doang? Yakin kamu nggak pengen pakai dekor, pakai adat jawa, resepsi gitu? Kakak-kakak kamu aja iya, masa kamu enggak? Nanti terus nggak sip dong? Nanti kalau nikahnya sepi-sepi gitu kamu dikira hamil duluan lho?"
Duh....

Saya tau betul, ibu saya paling nggak bisa kalah soal ginian. Jadilah kita harus mengadakan pernikahan selayaknya orang pada umumnya. Segala macam adat, resepsi, kondangan, pengajian. Ya sudah..... Rumah idaman sepertinya tertunda.

4. Pemilihan Seserahan

Sebenarnya, seserahan itu relative sih, nggak akan kenapa-napa juga kok kalau nggak pake. Cuma sih, mitosnya, seserahan itu adalah simbol yang menandakan kalau si pria sudah mampu menanggung semua keperluan si calon mempelai wanita from head to toe. Kebetulan, dengan izin si doi, untuk seserahan ini aku milih sendiri isinya, dan keluarga doi yang nanti tinggal bungkus-bungkus dan dekor seserahannya sendiri.

Untuk pemilihan seserahan ini, aku juga agak drama sih. Selain harus disesuaikan dengan budget, efektivitas isi seserahan juga harus dipertimbangkan. Maksudnya gini, jangan sampai kamu ingin seserahan yang ini dan itu, tapi malah ujung-ujungnya nggak kepakai dan berakhir kadaluarsa. Untuk sesrahannya, kalau di Jawa sih mitosnya harus berjumlah ganjil. Menurutku sih, yang paling wajib ada adalah underwear, kebaya dan jarit (punyaku yang ini diganti sama gamis dan jilbab), sanitary (handuk dan alat mandi), dan alat ibadah. Itu wajib versiku sih, tidak ada yang mewajibkan juga hahaha.

Kemudian untuk tambahannya, aku pakai seserahan kosmetik dan skincare. Nah untuk yang ini sih kalau aku prefer yang isinya bener-bener yang kita butuhin aja deh. Jangan sampai kamu gelap mata sampai produk-produk yang sebenarnya kamu nggak pernah pake dan ikut dimasuk-masukin juga. Misal kamu nggak pernah pake blush on, terus kamu beli blush on dan dimasukin ke seserahan biar keliatan wah atau lengkap aja. Dan akhirnya, malah nggak kepake dan kadaluwarsa. Kan sayang banget.

5. Souvenir dan undangan

Nah untuk dua hal ini biasanya kita harus udah siapin jauh-jauh hari. Waktu itu, berhubung orang tua ku nggak mau ngundang-ngundang temen-temennya,  aku cuma pakai undangan cetak 100 biji doang. Berhubungan temenku yang lain jauh-jauh, aku udah percayain buat bikin undangan digital berjenis video dan soft file undangannya aku kirim ke teman-teman.

Jadi sekarang kan jaman udah canggih tuh, jaman digital dan smartphone. Jadi kalo menurut aku undangan kertas gausah nyetak terlalu banyak. Kecuali kalau kalian ngundang orang-orang yang jauh lebih tua dari kalian biar kelihatan sopan dan menghormati. Kalaupun nanti kalian ingin ngeshare undangan, sebisa mungkin jangan share undangan kalian di khalayak umum seperti timeline facebook atau instagram. Soalnya kan viewers jadi bingung sebenernya dia diundang apa enggak. Kalau group whatsapp yang isinya kurang dari 50 orang, okay lah fine. Tapi kalau bisa, japri, alias jalur pribadi biar kamu kelihatan respect sama yang mau diundang.

Oh iya, untuk souvenir, aku order di Shop**. Untuk jenis souvenir ini, aku pengen yang anti mainstream dan beda dari yang lain. Kalau misalkan gelas, pouch gitu udah biasa banget ya. Jadilah aku order parfum Arab kecil-kecil itu buat souvenir. Dan hasilnya, tamu-tamu pada syukaaa.

5. Pemilihan Dekorasi, MUA, fotografer dan tetek bengeknya

Well, ini nih yang biasanya paling ribet. Tapi, aku nggak ribet sih. Berhubung aku tinggal di desa yang halaman rumahku tuh luwasssss banget mau buat parkir mobil orang sekampung pun muat, jadi aku udah nggak mikirin sewa gedung. Dan untuk dekorasi, kostum, MUA, fotografer, sounda sistem, MC, sampai perabotan makan semeja-mejanya aku sudah milih buat terima jadi sama satu pihak aja. JAdi itu kayak paketan gitu sih. Paling aku tinggal kontak temen yang hobinya moto-moto sama videoin buat bikin videografinya. Sudah beres. Nggak ribet, pernikahan minimalis pun jalan!!!


6. Puasa 2 hari sebelum hari H

Nggak ngerti sih ini mitos apa bukan. Katanya, kalau di adat Jawa, sebelum menikah harus puasa dua hari sebelum hari h. Katanya sih, biar mukanya terlihat manglingi (terlihat beda). Sebenarnya saya sih percaya nggak percaya sama mitos itu. Mau gimana manglingi apa enggak, jaman sekarang mah tergantung MUA atau budgetnya Yihaaa.....

Tapi, karena aku anak baik dan penurut omongan ibu, jadilah aku puasa dua hari dengan diniatkan puasa pasrah sama yang Maha Kuasa dan puasa memohon doa agar nanti pas hari H I J K L M sampai Z semuanya lancar. 

7. Maafkan setiap kekurangan di sana sini

Okay, tibalah hari H. Waktu itu, banyak banget chaosnya sebenernya, dari mulai ternyata tiba-tiba pihak videografernya sakit dan nggak dapet ganti. Sampai kamera cadangan yang mendadak ngehang pas dipakai. Belum lagi pihak calon ayah sama ibu mertua yang datangnya lumayan telat sampe MUAnya keburu-buru dandanin mereka. Banyak banget deh kurangnya.

Tapi yaudahlah ya, nggak ada yang bisa sempurna di dunia ini kok. Yang penting prosesi akad nikah, resepsi dan adat sudah berjalan dengan lancar dan khidmat.

Dan, yang penting kita sudah menikah, dengan budget minimalis yang kita habiskan sekitar 17 juta an. Hmm, itupun uang masak-masak sama kateringnya dari ibuku. Jadi kotonya sekitar 17 +++ sekian juta untuk bulan Juli 2018.

8. Sebuah Nasihat Pasca Nikah

Jadi, menurut saya, kesimpulannya, kalau kita nggak nekat buat nikah, uang nggak bakal kumpul-kummpul. Ini terbukti, setelah kita berdua memantapkan hati untuk lamaran dan beneran nikah, Ahamdulillah rejeki datang dari mana-mana, ya meskipun sempet stress juga sih buat prihatin sama ngiritnya.

So, buat kamu yan udah niat nikah tapi nggak jadi-jadi, coba deh ambil satu langkah lebih berani, misal lamaran dulu dan tentukan tanggal. Ingat ya, niat baik itu selalu berakhir baik. Berapapun budget nikahmu, pastikan itu nggak over dan bikin kamu misqueen setelah nikah. Ingatlah bahwa setelah nikah, kehidupan mu bakal lebih kompleks lagi. Kamu bakal mikir beli kasur yang lebih besar, beli rumah, beli mesin cuci, dan perabot-perabot lain. Jadi, sebelum menghambur-hamburkan uang di hari resepsi dan bulan madumu,pikirkanlah hidup setelah nikahmu!!!

#2018udahsah






Labels: curhat
0 Komentar untuk "Problema Perjalanan Menuju Halal"

Lieve your comment below...

Back To Top