Demokrasi menjadi santer sekali didengungkan terakhir ini. Ada sebagian orang yang jengah lantas merindukan zaman ketegasan dan kesejahteraan sebelum reformasi, ada sebagian lain yang terlalu bersemangat sampai-sampai rela memasang apa saja demi bisa berdiri di jajaran para pembesar negara, bahkan ada yang sangat apatis, tidak pernah peduli pada apa yang sedang terjadi di negerinya ini. Dunia yang bernama Indonesia ini seakan semakin bergradiasi, tak peduli meskipun sedang diuji dengan bencana paling memuakkan sepanjang era reformasi yang bernama korupsi.
Kampanye dengan embel-embel pro rakyat berpendar di sana-sini. Pidato pernyataan anti korupsi ramai-ramai bergema sampai ke seluruh negeri. Saling berlomba menelusuri pinggiran-pinggiran daerah terisolasi, berorasi unjuk gigi demi mengumpulkan satu per satu suara di pemilu nanti.
Mereka seharusnya paham betul bahwa menjadi pembesar negara tak seharusnya menghitung untung rugi, investasi janji-janji yang bahkan hanya akan dipandangg sebagai hisapan jempol kaki. Para maniak politik yang bersedia terjun menjadi petinggi negeri harusnya sadar bahwa lebih dari separuh waktu mereka tak lagi milik mereka sendiri, milik orang satu negeri, atau bahkan bisa dihitung lebih. Ini samasekali bukan soal membeli kehormatan untuk diri sendiri, namun saatnya menunjukkan kepada dunia bahwa kami, Indonesia memiliki nahkoda negara yang benar-benar rela tak pernah tidur agar kapalnya selamat dari hantaman gelombang besar.
Untuk mendapatkan perhatian para warga negara sipil serta penduduk negeri ini mungkin sangat mudah. Dengan profokasi ataupun orasi yang terlihat begitu meyakinkan, atau mungkin semacam praktek korupsi dengan selembar dua lembar amplop yang isinya lumayan untuk membeli nasi. Namun untuk mengembalikan kepercayaan kami kepada mereka, samasekali bukan hal yang mudah. Kepercayaan kami sudah hancur lebur semenjak berita di koran dan TV penuh dengan kabar santer para pelahap uang haram hasil korupsi. Kepercayaan kami telah tenggelam bersama sumpah serapah yang sama sekali tak menghasilkan bukti.Serta merta kepingan kepercayaan itu semakin hanyut ketika kami sadar bahwa sudah tak ada lagi yang bisa dipercaya di negeri ini. Bahkan segelintir orang bertanya-tanya untuk apa kantor pemberantasan korupsi berdiri kalau kegiatan korupsi malah makin menjadi.
Sudah terlampau banyak kritikus-kritikus yang terlalu berani menghujat, atau bahkan mengolok-olok bagaimana polah tingkah para pembesar di negeri ini. Tak tanggung-tanggung para reporter, pelawak, mahasiswa selalu saja mengungkapkan sindiran-sindiran yang cukup pedas yang seharusnya cukup untuk membakar telinga mereka. Pertanyaan selanjutnya selalu sama, benarkah mereka telah menyumpal habis-habisan telinga mereka?
Generalisasi seperti ini mungkin sudah menjadi santapan sehari-hari di kalangan para politisi. Bisa jadi atau bisa juga tidak, kami percaya masih ada beberapa para petinggi negeri yang berhati mulia, yang benar-benar menafkahkan sebagian waktunya untuk kami, para penduduk negeri yang pada kenyataannya hanya bisa menonton dari kejauhan.
"Percayalah bapak, ibu, kami lelah dengan hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Kami lelah dengan permainan cicak buaya yang kalian buat. Kami lelah dengan drama politik yang kalian mainkan. Kami tak sekedar butuh perubahan, kami butuh ekstra perubahan."
" Kelak 9 April , ketika jari kelingking kami tenggelam di tinta pemilu nanti, akan menjadi bukti bahwa kamipun masih percaya bahwa setidaknya masih ada petinggi negeri yang benar-benar mampu memimpin negeri ini."
~Tri Setiya~


0 Komentar untuk "Semacam Paragraf Asonansi Untuk Para Calon Petinggi Negeri "
Lieve your comment below...