Mungkin jarang sekali yang menyadari hal ini. Jarang sekali yang peduli dengan perasaan mereka, dua orang yang telah membuat kita ada di dunia ini. Ibu dan ayah.
Ibu terutama. Bahkan aku sendiri acap kali berurai air mata kalau ingat bagaimana perjuangan beliau membesarkan kami, membagi waktunya dengan luar biasa, antara mendidik kami, menjadi seorang pendamping yang hebat untuk ayah, bahkan masih sempat berdagang untuk menambah penghasilan keluarga kami.
Belum lagi, waktu aku masih kecil, ibu selalu mengutamakan aku sebagai anaknya. Apa saja yang baik untuk pertumbuhanku selalu di berikan, bahkan ibu rela puasa agar bisa beli susu kaleng berkualitas untukku. Belum lagi, saat aku sedang berusia 2- 3 tahun dan tumbuh nakal-nakalnya. Waktu itu ibu sedang belanja di swalayan. Aku minta mainan mahal sampai-sampai uang untuk membeli keperluan sebulan habis. Kemudian saat aku mulai sekolah di TK, aku sering rewel dan nangis nggak mau sekolah. Ibuku bela-belain jalan kaki sambil gendong aku sampai sekolah, cuma biar aku mau sekolah. Dan waktu SD kelas satu, ibuku selalu sabar ngajarin aku ngerjain PR. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya ibuku waktu itu, membesarkan dan merawatku dari bayi, sampai sekarang sebesar ini :’)
Dan, ibu adalah orang yang paling sering bangun untuk sholat malam dan berdo’a untuk anak-anaknya sampai isakan tangisnya terdengar dari kamarku.
Lalu orang kedua yang aku banggakan kedua adalah ayah. Ayah adalah orang paling bijaksana di dunia. Dulu waktu aku masih kecil, Ayah adalah orang yang paling rajin ngajakin aku jalan-jalan kalau sore. Meskipun cuma naik motor butut atau bahkan naik bis sampe terminal lalu pulang lagi tapi aku nggak pernah bisa lupa. Ayah adalah orang yang selalu bilang “ya” kalau aku minta apapun. Kalau aku nangis gara-gara dimarahin ibu karena aku bandel, beliau adalah orang pertama yang bikin nangisku diem. Ayahku adalah laki-laki gentle yang mau mati-matian berjuang berhenti ngerokok waktu awal-awal jadi suami ibuku dulu. Ayah adalah laki-laki keren yang selalu bisa jaga sholat 5 waktu dan puasa senin kamis.
Ayah adalah orang yang paling bisa dengerin cerita-ceritaku. Beliau yang selalu nggak tegaan kalau aku pergi sendirian. Bahkan aku inget banget waktu aku semester 2 aku baru berani nyetir motor sendiri di jalan besar, ayah yang biasanya naik motornya kenceng banget kayak pembalap, jalan pelan-pelan ngikutin aku dari belakang. So sweet banget kan :’)
Ayah juga yang paling sering cerita jaman kecilnya dulu. Betapa susahnya hidup ayah waktu kecil. Yang bikin aku terharu waktu ayah cerita begini :
“Ayah dulu waktu kecil malah bisa dibilang hidup nelangsa. Sebelas dua belas sama yang di acara “Orang Pinggiran.” Ayahnya ayah dulu juga kerjanya serabutan, ibunya ayah udah meninggal waktu ayah kecil. Waktu ayah kelas 2 SD, ayah udah jualan es keliling kampung, nyari kayu bakar, buruh-buruh tani punya orang. Tapi ayah selalu punya tekad dan kemauan yang keras biar anak-anak ayah nggak sama seperti ayah.”
Lewat ayah, aku tau bagaimana caranya bersyukur dan berjuang sekaligus. Lewat ayah juga aku belajar buat selalu bangun sebelum subuh. Lewat ayah, aku melihat bagaimana itu bekerja keras, dan lewat ayah, aku jadi tahu calon suami seperti apa yang aku inginkan besok :’)
Mungkin sebagian dari kalian yang membaca ini, pernah beranggapan bahwa ibu dan ayah kalian kolot, tidak tau jaman sekarang, bahkan beranggapan mereka bawel, tidak boleh ini dan itu. Mungkin mereka terlalu keras, kalau A ya A kalau B ya B. Atau ada diantara kalian yang merasa mereka cuek, terlalu sibuk sampai menanyakan bagaimana keadaan kalian saja tidak sempat. Kalian salah.
Tidakkah kalian sekali saja memahami bagaimana perasaan mereka sebagai orang tua? Yang selalu menginginkan yang terbaik untuk kalian. Yang selalu takut kalau kalian kenapa-napa. Bahkan ketika kamu sudah besar, mereka akan terus dan terus mengkhawatirkan kalian. Tidak percayakah kalian bahwa nggak akan pernah ada cinta antara sesama manusia yang bisa mengalahkan rasa cinta seorang ibu terhadap anaknya. Pacar kalian, teman kalian, sahabat kalian, mungkin tak akan pernah bisa menerima kalian setelah kalian membuat kesalahan besar. Tapi ibu atau ayah, mereka akan terus menerima dan mendo’akan kalian, bagaimanapun keadaan kalian :’)
Bagaimanapun ayah dan ibu kalian, mereka adalah orang tua kalian yang sudah merawat penuh kasih. Sebelum mendikte keburukan mereka, sudahkah kalian mengingat kebaikan mereka sampai kalian sebesar ini? Sudahkah kalian meminta maaf kepada mereka karena kalian selalu menjadi pembangkang yang ulung? Sudahkah kalian bilang kalau kalian sayang sama mereka? :’) Sampai kapanpun, kita mungkin nggak akan pernah bisa membalas jasa-jasa dan kebaikan mereka. Kita hanya bisa terus dan terus berbuat baik kepada mereka.
Untuk kalian yang sudah beberapa bulan tak pernah berjumpa mereka, sudahkah kalian menengok mereka dan mencium tangan mereka? Dan untuk kalian yang sudah kehilangan ayah atau ibu kalian, sudahkah kalian menitipkan do’a kepada Yang Maha Kuasa agar Allah menempatkan ayah/ibu kalian di sisi yang paling mulia?
“Allohummagh firlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayanii shoghiroo”


0 Komentar untuk "Our super heroes: Mommy and Daddy"
Lieve your comment below...