“Neng kue neng....” Tiba saatnya ibu itu menawarkan kuenya kepada saya. Sayapun teringat belum sarapan, lalu membeli beberapa kuenya untuk mengganjal perut. Ternyata kuenya masih hangat dan ssaya dapat lumayan banyak. Setelah saya membayar, ibu itupun kembali menggendong dagangannya dan berjalan lagi. Sambil tentu tak lupa menawarkan kuenya pada hampir setiap orang yang ditemuinya.
Di perjalanan menuju kantor, saya berpikir. Saya pernah merasa iri melihat beberapa teman terlihat begitu hidup enak, ketika berikhtiar dan langsung diterima ikhtiarnya. Dan saat saya melihat kawan lainnya, terlihat langsung mendapat kesempatan bagus bahkan tanpa banyak berusaha.
Lalu saya langsung ciut, berapa kali saya berusaha kemudian ikhtiarnya digagalkan. Berapa kali saya meiminta lalu bahkan belum juga dikabulkan. Berapa kali saya berjuang sekuat tenaga, kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala, lagi-lagi hasilnya tak seperti yang diharapkan. Saya kemudian merasa menjadi satu-satunya yang mendapat penolakan .
Saya pernah putus asa. Seolah tidak tau takdir saya berada di mana. Saya pernah hampir menjadi pengecut karena tertolak berkali-kali. Saya baru menyadari, kalau kesabaran dan daya juang saya dibandingkan ibu-ibu penjual kue yang saya temui tidak ada apa-apanya.
Untuk teman-teman, yang sedang merasa tertolak, jangan menyerah. Barangkali, kalau kamu berusaha sedikit lagi, kamu akan segera menemukan takdirmu. Bismillah.


0 Komentar untuk "Tentang Penolakan"
Lieve your comment below...