Siang itu panas matahari begitu menyengat kulit. Pulang kuliah, Mischa bertekad menghampiri Arfa di kampusnya. Ada sebuah misi terberat yang harus dijalankannya. Bahkan Mischa sampai tak tidur semalaman untuk berani mengambil keputusan ini. Ditunggunya kekasihnya itu di depan gerbang. Selang beberapa menit, Arfa keluar dengan motornya. Jantung Misscha berdegup kencang. Keringat dingin menetes di lekukan-lekukan tubuhnya yang mungil itu.
Masih seperti biasa, perasaan itu tetap sama. Kekaguman terhadap Arfa setiap kali pertama bertemu. Keteduhan tatapan mata, sikap wibawanya, kebijaksanaannya. Hassh, semua itu hanya akan menjadi boomerang yang semakin lama akan menghancurkannya kalau Mischa ingat kekasihnya itu cuek abis, sok cool, dan Cuma peduli sama dirinya sendiri.
Apa mungkin aku tega melakukan ini terhadap Arfa. Plis Mischa, kamu harus tegas. Hatinya kembali ragu.
“Mischa? Kok kamu nggak bilang kalo mau ke sini?” Sahutnya. Hati Mischa mulai getir, mendengar suara Arfa yang sedikit serak namun menenangkan. Suara yang sama dengan suara yang terdengar di telepon setiap malam minggu. Yang mungkin suara itu tak akan pernah terdengar lagi di telinganya.
“Memangnya kenapa? Nggak boleh? Aku mau ngomong sama kamu. Ke tempat biasa yuk.” Ucap Mischa sambil naik ke boncengan motor Arfa begitu saja.
“Ta.. tapi scha...” Mungkin Arfa ingin menolak, namun ini demi kebaikan Arfa dan dirinya. Dan Mischapun tak ingin membuang-buang waktu untuk keputusan ini.
“Udah ayo jalan. Cuma bentar kok.”
Arfapun menurut. Sepanjang perjalanan menuju danau, Mischa hanya terdiam, tersudut dalam pikirannya yang tersekat antara jadi atau tidak, sambil sesekali menikmati aroma parfum Arfa yang tercium dari punggungnya. Dan lagi-lagi mungkin inilah terakhir kalinya Mischa mencium aroma itu.
Dan saat mereka tiba di danau itu, Mischa terdiam, sibuk merangkai kata-kata yang ingin diucapkannya. Matanya terlihat menerawang menuju hamparan air raksasa itu. Air di danau itu selalu tenang memancarkan kealamiannya, tak pernah tersentuh, dan tak pernah ada orang lain kecuali mereka berdua setiap kali mereka ke tempat itu.
“Emm, aku pengen kita putus.” Kata-kata itu keluar dari mulut Mischa dengan begitu berat. Dipandangnya Arfa, dahinya berkerut dan alisnyapun tertaut. Sekali lagi mata teduh itu memporak-porandakan hati Mischa.
“Ke .. kenapa?”
“Aku... aku nggak bisa terus-terusan kamu cuekin Fa. Aku seperti pacaran sama mayat hidup yang bahkan bilang sayang sama aku aja nggak pernah.”
“Dan gara-gara itu kamu minta putus?”
“Aku capek dengan banyak hal yang ada di kamu. Bukan cuma itu aja. Jadi aku pikir, that’s enough. Maaf kalo aku nggak bisa lagi ngertiin kamu.”
Air hangat itu sudah berlinang di mata Mischa, yang ingin dia lakukan hanyalah enyah dari hadapan Arfa yang lagi-lagi seperti mayat hidup. Diam tak bergerak seperti patung es superhero yang beku. Namun tiba-tiba tangan kekar itu mencegahnya. Mischa berusaha keras meronta dan berlari sekencang-kencangnya. Hati Mischa remuk menyisakan kesesakan yang teramat terasa di dadanya. Samar-samar, dia mendengar teriakan Arfa.
***
Sudah dua hari Mischa merasakan sakit tepat di ulu hatinya. Sudah dua hari semenjak peristiwa yang bertemakan “terakhir” itu terjadi. Tadinya ia berpikir, kalau putus dari Arfa, semuanya akan menjadi lebih baik. Namun ternyata perasaan Mischa tak menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aktivitasnya juga tetap mengalir, tak ada yang kurang. Bangun tidur, kuliah, organisasi, semuanya berjalan seperti biasa.
Dan hal itupun memang terbukti, Arfa tak pernah benar-benar menyayanginya. Kalaupun Arfa menyayanginya, dia nggak akan menyerah begitu saja. Dia nggak mungkin membiarkannya pulang sendirian dari danau waktu itu. Dia tentu saja akan menyusulnya ke rumah untuk memperjuangkan cintanya. Dia pasti akan berusaha dengan mati-matian meneleponnya. Dan ternyata kenyataanya tidak. Iya, kini Mischa semakin tau bahwa Arfa tak pernah menyayanginya.
Ini adalah malam Minggu pertama tanpa dering telepon dari Arfa. Dan inilah Satnite yang benar-benar menjadi sad night karena tiba-tiba ingatan tentang Arfa berputar dengan sangat mulus di otak Mischa. Arfa yang dingin dan cuek. Arfa yang seperti mayat hidup itu ternyata begitu membekas dalam hati dan ingatannya. Tergambar jelas dalam benaknya, Arfa yang cuek, namun dapat bersikap begitu charming. Arfa yang aneh, yang sikapnya susah ditebak. Arfa yang menyebalkan tapi selalu ngangenin. Arfa yang tak pernah memanggilnya dengan panggilan sayang, namun selalu memanggil namanya dengan intonasi yang bermakna.
“Tapi orang yang sayang sama kita itu selalu peduli sama kita. Orang yang sayang sama kita nggak mungkin membiarkan kita menangis semalaman cuma buat sebuah perhatian. Dan orang yang sayang sama kita bakal selalu ngertiin apa mau kita. Dan itu semua nggak pernah aku dapat dari Arfa.”
Mischa sibuk mengumpulkan argumen-argumenya sendiri terhadap Arfa. Dia tak ingin harapan kepada Arfa semakin tumbuh di hatinya, dia harus tegar. Karena menurutnya dengan ataupun tanpa Arfa hidupnya tak jauh berbeda. Dan malam ini, Mischa memaksakan diri untuk terlelap meski bayang-bayang Arfa masih melintas di benaknya.
***
“Selamat pagi puteri cantik…”
Mischa tertegun, entah ini nyata atau mimpi karena dia baru saja terbangun lalu tergerak untuk membuka jendela kamarnya. Dan itu, iya.. itu Arfa. Dengan tanpa semangat dan masih setengah sadar, diseretnya langkah kaki mungil itu keluar rumah. Menyusul orang kurang kerjaan yang pagi-pagi buta begini datang ke rumahnya.
“Ikut aku yuk…”
“Ke mana?”
“Udah ikut.”
“Tapi aku belum mandi.”
“Nggak perlu mandi juga cantik.”
“Tapi..”
Mischa terheran-heran saat melihat jazz biru itu. Arfa tumben banget bawa mobil? Ah mengapa harus peduli? Bukankah semalam dia sudah berjanji untuk tidak memikirkan Arfa lagi? Sepanjang perjalanan Arfa hanya membisu, begitu juga Mischa.
“Dingin ya? Aku matiin aja ACnya ya..” Mischa semakin heran dengan sikap Arfa yang sungguh berbeda dengan biasanya. Dan ternyata benar, Arfa membawanya menuju danau itu lagi. Tanpa disuruh, Mischa turun dari mobil Arfa. Kaki mungilnya yang tanpa alas berjingkat menginjak rerumputan basah karena embun. Nafas panjangnya tak tenang namun mencoba menikmati kesejukan hawa dingin di tepi danau. Yang tanpa disadarinya Arfa mengamati Mischa dari samping mobil.
“Kamu inget ini tanggal berapa?” Tanya Arfa tiba-tiba. Mischa memutar memorinya. Entahlah, semenjak putus dari Arfa, dirinya tak pernah lagi mengingat tanggal. Dia mencoba membiarkan hidupnya mengalir tanpa pernah peduli dengan waktu yang mungkin akan semakin menyiksanya .
“Harusnya kamu nggak pernah merusak 14 bulan kita dengan hal konyol seperti kemaren. Selamat 14 bulan.” Ucap Arfa sambil mengulurkan setangkai mawar merah segar di hadapan Mischa.
“Tapi…”
“Mischa. Adakalanya orang yang sayang sama kamu punya cara tersendiri untuk menyayangi kamu. Aku mungkin bukan tipe orang yang romantis, yang biasa manggil kamu dengan sebutan sayang, yang biasa ngasih kamu perhatian, yang bisa ngasih kamu surprise dan ngajakin kamu dinner. Atau mungkin ngajakin kamu liat bintang malem-malem di atap gedung. Beliin kamu kaos couple kaya’ yang dilakuin pacar temen-temen kamu. Atau mungkin sikapku nggak bisa kaya’ aktor Korea yang begitu menyenangkan.” Ucapnya Arfa dengan penuh kehangatan. Mischapun masih membisu. Menunggu Arfa melanjutkan bicaranya.
“Aku pengen menyayangi kamu dengan cara yang beda yang belum pernah dilakukan sama orang-orang, yang bahkan itu semua di luar dugaan kamu. Yang perlu kamu tau, aku menghargai kamu lebih dari apapun di dunia ini. Aku ingin melindungi kamu dengan cara aku sendiri. Bahkan menyentuh kamu secara intens aku nggak pernah kan? Kamu adalah masa depan aku, Scha. Dan sekali lagi, menurut aku cinta itu nggak bisa diukur dengan sikap seseorang, apalagi dengan kata-kata. Tapi dengan bagaimana cara orang itu menghargai orang yang dicintainya.”
Air mata Mischa meleleh begitu saja. Ada kebahagiaan dan kesesakan di dadanya sekaligus.
“Kecuali kalau kamu memang nggak bisa menerima sikapku, kalau kamu nggak bisa memahami bagaimana cara aku menghargai kamu. Kamu bisa mencari orang lain yang menurut kamu lebih bisa membahagiakan kamu.” Bulir air mata itu semakin banyak menetes di pipi Mischa. Sementara Arfa tertunduk. Ia tau Arfa tak pernah kuat melihatnya menangis. Segera dihapusnya air mata itu. Lalu dimintanya mawar merah itu dari tangan Arfa. Lalu dibuangnya jauh ke tengah danau. Arfapun terheran.
“Kok dibuang?”
“Karena cinta kita nggak akan pernah butuh mawar merah. Aku nggak mau kamu jadi orang lain yang sok romantis dan perhatian. Aku pengen kamu cukup jadi Arfa, Arfa yang sayang sama aku, yang menghargai aku lebih dari apapun.”
Dan begitulah, pagi itu menjadi saksi, bagaimana cinta seharusnya diungkapkan. Bukan untuk saling menuntut, tapi untuk saling menerima satu sama lain.


0 Komentar untuk "Sad Night On Satnite "
Lieve your comment below...